Rabu, 17 Desember 2008

AL-Quran dan AL-Sunnah

AL-QURAN DAN AL-SUNNAH SEBAGAI SUMBER AQIDAH
  • Rasulullah s.a.w. telah diutus Allah pada zaman pupusnya tanda-tanda keimanan kepada Allah Tabaaraka Wata'ala
  • Bangsa Arab mempercayai kewujudan Allah, dan Dialah Tuhan Pencipta Alam Buana dan yang menurunkan hujan, tetapi pada pandangan mereka, tuhan ini tidak berkuasa menghidupkan mereka selepas mereka mati. Tujuannya mencipta manusia semata-mata supaya mereka menghayati dunia yang diadakan untuk mereka ini.
    Bagi mereka di sana tiada kiamat dan tiada hisab. Kemudian bagi mereka, Allah itu seperti raja-raja di muka bumi yang memerlukan wasilah seperti malaikat dan golongan solihin yang disayangiNya untuk mendapatkan rezeki dan hujan serta pertolongan bagi menumpaskan musuh-musuh.
  • Di kalangan kaum Nasrani hanya segelintir sahaja yang mengetahui agama yang sebenar. Majoritinya mempercayai Nabi Isa a.s itulah tuhan atau anak Allah, menjadikan paderi-paderi dan pendeta-pendeta sebagai tuhan serta mematuhi dan melaksanakan apa sahaja yang diluahkannya walaupun bertentangan dengan isi kandungan kitab Injil mereka. Mereka telah menjadikan golongan yang soleh di kalangan mereka sebagai sasaran pendewaan dan pemujaan.
  • Kaum Yahudi pula bersikap keterlaluan apabila menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Mereka menempelkan kepadaNya segala jenis keburukan dan kecacatan yang terdapat di kalangan makhluk manusia seperti berbohong, bakhil, lalai dan jahil tentang apa yang akan berlaku.
  • Di negeri Parsi dan benua India pula terdapat amat banyak falsafah yang setiap satunya menggambarkan tuhan yang mereka sembah dengan gambaran yang disenangi oleh akal orang yang menggambarkannya. Ada falsafah yang mengatakan alam ini mempunyai dua tuhan, satu tuhan untuk cahaya (kebaikan) dan satu tuhan untuk kegelapan (kejahatan). Ia mendakwa kedua-dua tuhan tersebut sentiasa bertarung. Ia menyerupai manusia supaya menyokong tuhan cahaya dan kebaikan dengan menyalakan api agar yang benar mengalahkan yang batil. Ada falsafah yang menganjurkan kepercayaan kepada tuhan pencipta-pencipta alam buana, dan mengajak manusia bermujahadah dengan berbagai-bagai cara sehingga fana' dan bergabung dengan tuhan itu agar rohnya tidak kembali semula ke alam buana ini selepas mati kelak! Ada pula falsafah yang menganjurkan kepercayaan kepada kewujudan kulli bagi zat yang tunggal, yang berbilang-bilang kewujudannya dengan berbilang-bilang sifatnya. Para penyair dan sasterawan Parsi amat terpesona dengan zat tunggal yang ternampak kepada mereka ada pada segala sesuatu dan pada segala yang wujud.
  • Di Negeri Greek lahir berbagai falsafah yang sebahagian besarnya menganjurkan kepercayaan kepada khaliq alam buana yang mereka namakan wajib untuk kewujudan atau sebab segala sebab, dan darinya lahir dan terbitnya alam. Tetapi falsafah ini berada di tengah-tengah kebingungan dan tidak mampu menentukan matlamat dan tujuan alam buana ini dicipta, dan titik akhir yang dituju manusia

  • Baca Selengkapnya ya...

    Minggu, 14 Desember 2008

    Profil VEDCA Cianjur

    Vocational Education Development Center For Agriculture (VEDCA) merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependididkan, Departemen Pendidikan Nasional yang pendiriannya mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 08 tahun 2007 tentang organisasi dan tata kerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 13 Februari 2007. VEDCA memiliki tugas melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan di bidang pertanian dan mempunyai fungsi, yakni :

    a. Penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan
    b. Pengelolaan data dan informasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
    c. Fasilitasi dan pelaksanaan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
    d. Evaluasi program dan fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
    e. Pelaksanaan urusan administrasi PPPPTK

    Visi:
    Meraih kualitas hidup yang lebih baik dan menjemput kemakmuran bumi, melalui pembentukan insan profesional

    Misi:
    1. Menyelenggarakan layanan fasilitasi terstandar
    2. Melakukan pengkajian, pengembangan dan pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam perannya sebagai fungsi think tank
    3. Melakukan penjaminan mutu fasilitasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
    4. Memberdayakan asosiasi Pendidik dan Tenaga Kependiidkan, dan pusat pembelajaran masyarakat
    5. Memfasilitasi pemenuhan kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan

    "VEDCA" - VERSATILE, DEDICATED, AND CARE" adalah semboyan kami dalam mengembangkan sistem agribisnis melalui pemberdayaan SDM dan produksi hasil-hasil pertanian. Kebijakan Mutu kami adalah:VISIONARY INOVATION,
    EXCELLENT SERVICE,
    DYNAMIC METHODOLOGY,
    CREATIVE TRAINING and CONSULTANCY,

    ACTIVE IN AGRICULTURE PRODUCT, AGROINDUSTRY PRODUCTION, AND ORGANIC FARMING

    Saat ini, VEDCA merupakan lembaga di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang bertanggung jawab secara teknis dalam pengembangan dan pemberdayaan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Lingkup layanan dan produk yang dihasilkan dari pelaksanaan kegiatannya, terutama meliputi hal-hal yang berkaitan dengan fasilitasi pendidikan kejuruan, layanan jasa konsultansi serta produk-produk yang berhubungan dengan aspek teknis pada sub-sektor pertanian tanaman hortikultura, pangan, perkebunan dan kehutanan, perbenihan tanaman, sub-sektor peternakan, sub-sektor perikanan dan kelautan, sub-sektor pengolahan hasil pertanian, alat mesin pertanian, pertanian organik dan aspek-aspek ekonomi dalam agribisnis.

    Beberapa aktivitas yang telah dilaksanakan antara lain berupa:
    a. pengembangan kurikulum bagi sekolah kejuruan pertanian;
    b. pengembangan bahan ajar/bahan latihan yang diperlukan dalam pendidikan dan latihan
    kejuruan pertanian;
    c. pengembangan program dan asistensi peningkatan mutu sekolah kejuruan pertanian;
    d. pelatihan manajerial bagi para pengelola sekolah menengah kejuruan;
    e. pelatihan kependidikan dan kejuruan bagi para pengelola dan pelaksana sekolah menengah
    kejuruan pertanian;
    f. pendidikan dan pelatihan agribisnis bagi masyarakat umum dan departemen lainnya diluar
    Departemen Pendidikan Nasional;
    g. produksi berbagai hasil pertanian (tanaman, ternak, ikan) dan hasil olahnya;
    h. pengembangan/inovasi teknologi kependidikan dan latihan serta hal-hal yang berkaitan
    dengan sektor pertanian; dan
    i. pelaksanaan pendidikan Diploma (DIII-IV) bidang Kultur Jaringan, Teknologi Benih,
    Agribisnis Ruminansia, Budidaya Perairan, Perikanan Tangkap, Pengawasan Mutu
    Agroindustri, Rancang Bangun Alat Mesin Pertanian, Teknologi Herbal, Manajemen Kelapa
    sawit, Manajemen Logistik, Teknologi Pabrikasi Kelapa Sawit, Manajemen Ulat Sutra.

    Mengingat bahwa pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan dan latihan kejuruan pertanian tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan dunia kerja sektor pertanian, maka VEDCA tidak hanya melayani dan berhubungan/bekerja sama dengan lembaga pelaksana pendidikan menengah kejuruan pertanian, namun juga melayani dan berhubungan/bekerja sama dengan masyarakat umum (industri, pengusaha, petani, dan peminat bidang pertanian) secara langsung.
    Baca Selengkapnya ya...

    Kamis, 11 Desember 2008

    Dimensi pengukuran bangunan kapal

    Dimensi pengukuran :



    Ukuran – ukuran pokok kapal terdiri dari :



    a.Ukuran membujur/ memanjang (longitudinal)

    b.Ukuran melintang/ melebar (transverzal)



    Definisi – definisi :

    Panjang (length):Jarak membujur sebuah kapal dalam meter pada sarat muat musim panas yang dihitung dari bagian depan linggi haluan sampai sisi belakang poros kemudi atau tengah – tengah cagak kemudi pada kapal yang tidak memiliki poros kemudi. Panjang ini tidak kurang dari 96 % dan tak lebih dari 76 % panjang pada sarat musim panas maksimum dan merupakan panjang yang ditentukan oleh biro klasifikasi di mana kapal tersebut dikeluarkan.



    Lebar (breadth): Lebar kulit kapal bagian dalam terbesar yang diukur dari bagian sebelah dalam kulit kapal. Lebar ini juga merupakan lebar menurut ketentuan biro klasifikasi di mana kapal tersebut dikelaskan.



    Dalam (depth): Jarak tegak yang dinyatakan dalam meter pada pertengahan panjang kapal diukur dari bagian atas lunas sampai bagian atas balok geladak dari geladak jalan terus teratas.



    Tengah – tengah kapal (admidships) : pertengahan panjang yang diukur dari bagian depan linggi haluan.



    a.Ukuran membujur/ memanjang (longitudinal)
    1. Panjang seluruhnya (length over all = LOA) : panjang seluruhnya ialah jarak membujur sebuah kapal dari titik terdepan linggi haluan kapal sampai ke titik terbelakang dari buritan kapal. Diukur sejajar lunas jarak ini merupakan jarak terpanjang dari sebuah kapal yang gunanya sangat penting untuk memperkirakan panjang dermaga.
    2. Panjang sepanjang garis tegak (length between perpendiculars) : panjang kapal dihitung dari garis tegak depan sampai ke garis tegak belakang.
    3. Garis tegak depan (forward perpendicular) ialah sebuah garis khayalan yang memotong tegak lurus garis muat perancang kapal dengan linggi haluan.
    4. Garis tegak belakang (after perpendicular) ialah sebuah garis khayalan yang biasanya terletak pada tengah – tengah cagak kemudi atau bagian belakang dari poros kemudi. Panjang sepanjang garis tegak diukur sejajar lunas dan merupakan panjang lambung bebas (freeboard length).>
    5. Panjang sepanjang garis air (length on the load water line = LOWL) : panjang sebuah kapal diukur dari perpotongan garis air dengan linggi haluan sampai ke titik potong garis air dengan linggi belakang diukur sejajar lunas.
    6. Panjang terdaftar (registered length) : panjang seperti yang tertera di dalam sertifikat kapal itu, yaitu dihitung dari ujung terdepan geladak jalan terus teratas sampai garis tegak belakang diukur sejajar lunas.


    1. Gambar Ukuran membujur/ memanjang (longitudinal)


    b. Ukuran melintang/ melebar (transverzal)

    1. Lebar terbesar atau ekstrim (extreme breasth) : jarak melintang dari suatu titik terjauh di sebelah kiri sampai ke titik terjauh di sebelah kanan badan kapal diukur pada lebar terbesar dan sejajar lunas. Dalam hal ini kulit dihitung. Lebar ekstrim merupakan lebar kapal terbesar dan terdaftar (Registered breadth).
    2. Lebar dalam (moulded breadth) : lebar kapal dihitung dari sebelah dalam kulit kapal lambung yang satu sampai ke sebelah dalam lambung lainnya, diukur pada lebar kapal terbesar dan sejajar lunas. Dapat juga lebar dari bagian luar gading – gading lambung yang satu sampai kebagian luar gading – gading lambung lainnya, diukur pada lebar kapal yang terbesar dan sejajar lunas. Lebar dalam merupakan lebar menurut biro klasifikasi di mana kapal tersebut dikelaskan. Lebar dalam juga disebut rancangan dimana tebal kulit kapal tidak dihitung.
    3. >Lebar terdaftar (registered breadth) : lebar seperti yang tertera didalam sertifikat kapal itu. Panjangnya sama dengan lebar dalam (moulded breadth).
    4. Lebar tonase (tonnage breadth) : lebar sebuah kapal dari bagian dalam wilah keringat lambung yang satu sampai ke bagian dalam wilah keringat lambung lainnya, diukur pada lebar terbesar dan sejajar lunas.



    c.Ukuran tegak (vertical)

    1. Sarat kapal : jarak tegak yang diukur dari titik terendah badan kapal sampai garis air. Jraka ini sering di istilahkan dengan sarat moulded.
    2. Lambung bebas (free board) : jarak tegak dari garis air sampai geladak lambung bebas atau garis dek (free board deck or deck line)
    3. Dalam (depth) : jarak yang diukur dari titik terendahbadan kapal sampai ke titik di geladak lambung bebas tersebut. Dengan kata lain dalam merupakan jumlah sarat kapal dan lambung bebas. Jarak inipun merupakan dalam menurut biro klasifikasi di mana kapal tersebut dikelaskan.
    4. Dalam tonase : dalam yang dihitung mulai dari alas dasar dalam sampai geladak lambung bebas.
    5. Sarat kapal, lambung bebas dan dalam : diukur pada tengah – tengah kapal.



    Gambar Ukuran membujur/ memanjang (longitudinal)

    Baca Selengkapnya ya...

    Kamis, 04 Desember 2008

    Bubu

    BUBU

    A. Pendahuluan
    Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “ guiding barriers “.
    Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :
    Bubu Dasar (Ground Fish Pots).: Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan.
    Bubu Apung (Floating Fish Pots): Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan.
    Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots) : Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan.
    Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang lain seperti :
    1. Bubu Jermal : Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang surut (tidal trap).
    2. Bubu Ambai.: Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut ukuran kecil.
    3. Bubu Apolo.:Hampir sama de

    B. Konstruksi Bubu
    Bentuk bubu bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical),gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo`s splitting or-screen).
    Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.
    Badan (body): Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung.
    Mulut (funnel): Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar.
    Pintu: Bagian tempat pengambilan hasil tangkapan.
    B.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)

    Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar bervariasi, menurut besar kecilnya yang dibuat menurut kebutuhan. Untuk bubu kecil, umumnya berukuran panjang 1m, lebar 50-75 cm, tinggi 25-30 cm. untuk bubu besar dapat mencapai ukuran panjang 3,5 m, lebar 2 m, tinggi 75-100 cm.
    B.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
    Tipe bubu apung berbeda dengan bubu dasar. Bentuk bubu apung ini bisa silindris, bisa juga menyerupai kurung-kurung atau kantong yang disebut sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu yang penggunaannya ada yang diletakkan tepat di bagian atasnya.
    B.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
    Bubu hanyut atau “ pakaja “ termasuk bubu ukuran kecil, berbentuk silindris, panjang 0,75 m, diameter 0,4-0,5 m.
    B.4. Bubu Jermal
    Ukuran bubu jermal, panjang 10 m, diameter mulut 6 m, besar mata pada bagian badan 3 cm dan kantong 2 cm.
    B.5. Bubu Ambai
    Bubu ambai termasuk perangkap pasang surut berukuran kecil, panjang keseluruhan antara 7-7,5 m. bahan jaring terbuat dari nilon (polyfilament). Jaring ambai terdiri dari empat bagian menurut besar kecilnya mata jaring, yaitu bagian muka, tengah, belakang dan kantung. Mulut jaring ada yang berbentuk bulat, ada juga yang berbentuk empat persegi berukuran 2,6 x 4,7 m. pada kanan-kiri mulut terdapat gelang, terbuat dari rotan maupun besi yang jumlahnya 2-4 buah. Gelang- gelang tersebut dimasukkan dalam banyaknya jaring ambai dan dipasang melintang memotong jurusan arus. Satu deretan ambai terdiri dari 10-22 buah yang merupakan satu unit, bahkan ada yang mencapai 60-100 buah/unit.
    B.6. Bubu Apolo
    Bahan jaring dibuat dari benang nilon halus yang terdiri dari bagian-bagian mulut, badan, kaki dan kantung. Panjang jaring keseluruhan mencapai 11 m. Mulut jaring berbentuk empat persegi dengan lekukan bagian kiri dan kanan. Panjang badan 3,75 m, kaki 7,25 m dan lebar 0,60 m. pada ujubg kaki terdapat mestak yang selanjutnya diikuti oleh adanya dua kantung yang panjangnya 1,60 m dan lebar 0,60 m.

    C. Hasil tangkapan Bubu
    C.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
    Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.
    C.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
    Hasil tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll.
    C.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
    Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish).
    C.4. Bubu Ambai
    Hasil tangkapan bubu ambai bervariasi menurut besar kecilnya mata jaring yang digunakan. Namun, pada umumnya hasil tangkapannya adalah jenis-jenis udang.
    C.5. Bubu Apolo
    Hasil tangkapan bubu apolo sama dengan hasil tangkapan dengan menggunakan bubu ambai, yakni jenis-jenis udang.

    D. Daerah Penangkapan
    D.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
    Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.
    D.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
    Dalam operasi penangkapan, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman tali, yang biasanya dipasang pada kedalaman 1,5 kali dari kedalaman air.
    D.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
    Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.
    D.4. Bubu Jermal dan Bubu Apolo
    Dalam operasi penangkapan, kedua bubu di atas diletakkan pada daerah pasang surut (tidal trap). Umumnya dioperasikan di daerah perairan Sumatera.
    D.5. Bubu Ambai
    Lokasi penangkapan bubu ambai dilakukan antara 1-2 mil dari pantai.
    E. Alat Bantu Penangkapan
    Dalam operasi penangkapan, terdapat alat bantu penangkapan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak.
    Alat bantu penangkapan tersebut antara lain :
    Umpan: Umpan diletakkan di dalam bubu yang akan dioperasikan. Umpan yang dibuat disesuaikan dengan jenis ikan ataupun udang yg menjadi tujuan penangkapan.
    Rumpon: Pemasangan rumpon berguna dalam pengumpulan ikan.
    Pelampung: Penggunaan pelampung membantu dalam pemasangan bubu, dengan tujuan agar memudahkan mengetahui tempat-tempat dimana bubu dipasang.
    Perahu: Perahu digunakan sebagai alat transportasi dari darat ke laut (daerah tempat pemasangan bubu).
    Katrol: Membantu dalam pengangkatan bubu. Biasanya penggunaan katrol pada pengoperasian bubu jermal.
    F. Teknik Operasi (Sitting dan Hunting)
    F.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
    Dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu berukuran besar), bisa ganda (umumnya bubu berukuran kecil atau sedang) yang dalam pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan bubu tersebut. Bubu dipasang di daerah perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan. Bubu dilengkapi dengan pelampung yang dihubungkan dengan tali panjang. Setelah bubu diletakkan di daerah operasi, bubu ditinggalkan, untuk kemudian diambil 2-3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari.
    F.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
    Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh melalui tali panjang dan dihubungkan dengan jangkar. Panjang tali disesuaikan dengan kedalaman air, umumnya 1,5 kali dari kedalaman air.
    F.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
    Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya menjadi banyak, antara 20-30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang akan digunakan dalam penangkapan.
    Operasi penangkapan dilakukan sebagai berikut :
    1. Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.
    2. Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).
    3. Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur sampai + antara 60-150 m.
    F.4. Bubu Jermal
    Pada bubu jermal, operasi penangkapan dilakukan dengan menekan galah yang terdapat pada kanan/kiri mulut jaring ke bawah sampai di dasar sehingga mulut kantung jaring terbuka. Bubu kemudian diangkat setelah dibiarkan 20-30 menit. Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dengan menutup mulut jaring dengan cara mengangkat bibir bawah ke atas, kemudian diikuti mengangkat bagian-bagian tengah kantong melalui katrol-katrol. Pengambilan hasil dilakukan dengan membuka ikatan tali pada ujung belakang kantong.


    F.5. Bubu Ambai
    Penangkapan dengan bubu ambai dilakukan pada waktu air pasang maupun surut. Arah dari mulut jaring dapat dibolak-balik dihadapkan darimana datangnya arus. Setelah 15-20 dari pemasangan, dapat dilakukan pengambilan hasil, yaitu dengan mengangkat bagian bawah mulut ke permukaan air dengan mempertemukan bibir atas dan bawah. Demikian seterusnya dilakukan hingga seluruh deretan ambai selesai dikerjakan, kemudian dilakukan pembukaan tali-tali pengikat pada ujung belakang kantung. Operasi penangkapan dilakukan 2-3 orang untuk tiap kali penangkapan, tergantung banyak sedikitnya unit atau jaring yang dipakai.
    F.6. Bubu Apolo
    Pengoperasian bubu apolo dilakukan baik siang ataupun malam hari pada waktu air pasang maupun surut. Pengoperasian apolo ini memerlukan 2-3 orang. Tempat melakukan operasi penangkapan, yakni 1-2 mil dari pantai.
    G. Hal-hal Yang Mempengaruhi Penangkapan
    Dalam setiap operasi penangkapan nelayan harus memperhatikan hal-hal yang mungkin akan mempengaruhi hasil tangkapannya.Antara lain factor adanya lampu sebagai alat bantu atau mungkin rumpon.Selain hal tersebut diatas perlu diperhatikan efektifitas penangkapan,sehingga perlu adanya perkiraan hari dan hitungan bulan(apakah ini termasuk bulan terang ataukah termasuk bulan mati)
    H.Sumber Bacaan
    Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut di Indonesia.Nomor 50 Th. 1988/1989. Edisi khusus. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta. .com
    Baca Selengkapnya ya...


    gif maker
    Ingin tukar link banner diatas silahkan copy code berikut ini :



    Jika Anda ingin berdonasi silahkan klik dibawah ini :

    100 Blog Indonesia Terbaik
    Galuh Technologies Web Hosting - Registrasi Domain - Web Desain

    Followers

    Ikutlah bergabung disini :

    Program Affiliate



    Masukkan Code ini K1-BC97EB-5
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com


    Produk SMART Telecom

    Blog Archive

    Recent post

     

    Copyright © 2009 by Laut biruku