Senin, 29 Juni 2009

Fisheries and Stock Assessment

Fishes of the world’s oceans were once considered inexhaustible (Safina 1995;Pauly and Palomares 2005), and that human fishing could not deplete widely dispersed marine fish populations (Haddon 2001). Times have changed and there is now a crisis looming as humans witness the collapse of fisheries, destabilization of marine ecosystems, decreasing biodiversity, and increasing impoverishment of coastal communities (Pauly et al. 1998; Watson and Pauly 2001; Myers and Worm 2003; Hilborn 2001; Hutchings and Reynolds 2004). The large number of overfished populations (Jackson et al. 2001; Garcia and Grainger 2005; Froese 2004; Fulton et al. 2005), as well as indirect effects of fisheries on marine ecosystems (Myers and Worm 2005), indicate that fisheries management has failed to achieve its principal goal of sustainability (Botsford et al. 1997; Jackson et al. 2001).

Practicable methods for quantifying the status of fishery resources are critical to effective fisheries management (Gobert 1997; Aubone 2003). Stock assessment methods determine changes in the abundance of fishery stocks in response to fishing, and redict future trends of stock abundance. Stock assessment involves collecting and analyzing biological and statistical information based on resource surveys, knowledge of habitat, life-history, and behavior of the species, and catch data. Stock assessments are used as a basis to assess and specify the present and probable future condition of a fishery (NOAA 2005).
Mathematical models that underlie stock assessment have been developed to provide scientifically sound information on stock status and on predicted harvesting rates relative to sustainable harvest rates (Sissenwine 1981). Stock assessment models have been used to provide predictions of annual yields into the future under different harvest strategies, short-term yield forecasts, recommendations of allowable biological catch, and evaluation of the feasibility of stock rebuilding strategies (Rose and Cowan 2003). The results of these mathematical models form the basis of recommendations to fishery management agencies, which subsequently formulate management plans and strategies to ensure the sustainable and optimal use of the resource (Cadrin 1999; Caddy 2002; Hilborn 2001). Stock assessment models typically involve the use of life-history information on growth, mortality, and reproduction, coupled with indices of stock abundance derived from commercial fisheries data or scientific surveys (Gayanilo and Pauly 1997; Beddington and Kirkwood 2005).
While there has been much research in the area of stock assessment (Hilborn and Walters 1992), most effort has focused on temperate species and on situations where relatively long-term, age-based data are available. Commonly used methods include virtual population analysis (Gayanilo and Pauly 1997; Haddon 2001) and age-structured matrix projection models (Hilborn and Walters 1992; Quinn and Deriso 1999). These methods generally use catch or survey data, from which individuals have been sampled and their size (length or weight) measured and their age determined from hard-parts such as scales or otoliths (Gallucci et al.1996; Gayanilo and Pauly 1997; Quinn and Deriso 1999). While age-structured approaches provide a powerful framework for stock assessment, determination of ages is labor intensive, involves high costs and capital investment, and requires well-trained personnel (Craig 1999; Pilling 1999).
Baca Selengkapnya ya...

Promosi produk dapat laptop gratis

Mau ikutan memasarkan produk milik http://www.alnect.net/ selain itu juga anda akan bersaing untuk mendapatkan hadiah langsung dari alnect. langsung saja ikuti program ini dengan keyakinan tanpa ragu-ragu daftarkan blog anda sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan sesuatu undian yang dijanjikan oleh alnect. Jika Anda berminat klik aja banner di bawah ini
Alnect computer Blog Contest
Baca Selengkapnya ya...

Jumat, 26 Juni 2009

Membaca desain alat tangkap

Alasan proses pembuatan alat tangkap di dahului dengan membaca desain alat tangkap:
• Merupakan langkah awal dalam konstruksi alat tangkap
• Proses analisis bahan dan alat yang diperlukan
• Proses analisis kebutuhan biaya yang akan dikeluarkan
• Mensinkronkan dengan tujuan dari pembuatan alat tangkap
Baca Selengkapnya ya...

Daya tenggelam

Dalam menentukan daya apung dapat dicari dengan mengguanakan persamaan sebagai berikut:
G = V(C-1) DIMANA V = W : C
Keterangan :
G = daya tengelam
V = volume benda
W = berat benda diudara
C = berat jenis benda


CONTOH:
Diketahui :
W = 5 Kg , BERAT JENIS = 3,5
Ditanyakan : G = ………… ?
JADI G = (5 :3,5)X(3,5 -1)
= 3,5 Kg
Baca Selengkapnya ya...

Kamis, 25 Juni 2009

Daya apung

Dalam menentukan daya apung dapat dicari dengan mengguanakan persamaan sebagai berikut:
B = V(1-C) DIMANA V = W : C
Keterangan :
B = Daya Apung
V = Volume Benda
W = Berat Benda diudara
C = Berat Jenis Benda

CONTOH:
Diketahui:
W = 25 gr, Berat Jenis = 0,25
Ditanyakan : B = ………… ?
Jawab:
Jadi B = (25:0,25) x (1-0,25)
= 75 gram
Baca Selengkapnya ya...

Hanging ratio (Shrinkage/penciutan luar)

Shrinkage (s) adalah perbandingan antara panjang jaring dalam keadaan terentang dengan panjang tali ris atas, dinyatakan dalam %.
Contoh : Misalnya panjang jaring 100 m, dipasang pada tali ris atas 80 m.>
Maka S = {(100-80): (100)}x100%

Jadi S = 20%
Baca Selengkapnya ya...

Selasa, 16 Juni 2009

Penandaan posisi duga

Aturan-aturan penting dalam hal penandaan posisi duga adalah sebagai berikut :
  1. Segera sesudah melukis garis haluan atau menentukan posisi, harus diberi tanda.
  2. Tulisan tidak boleh menutupi garis, tanda-tanda untuk menunjukkan posisi pasti dan posisi yang sedang dijalani harus ditulis mendatar.
  3. Tanda-tanda yang menunjukkan arah dan kecepatan sepanjang garis haluan, harus ditulis searah dengan garisnya.
  4. Garis haluan diberi simbol C (Coarse = haluan) dengan 3 digit/angka yang menandakan derajat haluan sejati, ditempatkan di atas garis haluan.
  5. Tanda yang menyatakan kecepatan rata-rata sepanjang garis haluan adalah S (Speed = kecepatan) diikuti dengan angka berapa kecepatan yang ditunjukkannya, umumnya dalam knot (mil per jam). Tanda ini ditulis dibawah dari garis haluan, biasanya persis di bawah tanda haluan.
  6. Jika posisi duga dilukis sebagai suatu pengembangan perencanaan menurut gerakan kapal dimana jaraknya telah diketahui, kecepatan kapalsebelum berangkat juga telah diketahui, jika ingin memberi tanda posisiduga menurut jaraknya maka tulislah dengan simbol D (Departure =keberangkatan) diikuti dengan jarak dalam mil, ditempatkan di bawahgaris haluan.
  7. Semua tanda harus ditulis dengan jelas dan rapih.
  8. Simbol untuk posisi fix (pasti) adalah sebuah titik yang berada di dalam lingkaran kecil (contoh penulisan : ȧ), waktu ditulis secara mendatar di dekatnya (jika posisi berada pada pertemuan dua garis baringan yang berbeda maka penulisan titik dapat diabaikan).
  9. Simbol untuk Running fix, disingkat R Fix (posisi yang sedang dilayari) adalah sama dengan simbol Fix (posisi pasti) tetapi huruf R Fix diikuti dengan menulis waktunya. Sedangkan simbol untuk posisi duga adalah setengah lingkaran kecil mengelilingi titik kecil pada segmen garis haluan, waktu ditulis dekat dengan sudutnya secara mendatar. Titik pada posisi fix, running fix, sebaiknya kecil saja dan rapih.

Sebagai tambahan atas simbol dan penandaan, ada 6 aturan dasar yang akan menuntun seorang navigator tetang kapan penentuan posisi duga dan pembuatan garis haluan dilakukan, yaitu :
  1. Penentuan posisi duga harus dibuatkan jelas kapan waktu dilaksanakannya dalam setiap jam.
  2. Penentuan posisi duga harus dibuat setiap perubahan haluan dilakukan.
  3. Penentuan posisi duga harus dibuat ketika perubahan kecepatan kapal dilakukan.
  4. Penentuan posisi duga harus dibuatkan jelas kapan waktu ditetapkannya posisi pasti atau “running fix”.
  5. Penentuan posisi duga harus dibuatkan jelas kapan waktunya ketika hanya diperoleh satu garis baringan.
  6. Suatu garis haluan yang baru harus dibuat dari posisi yang pasti atau “running fix” segera setelah diketahui pasti kedudukannya di peta.

Baca Selengkapnya ya...

Tuker link para blogger

Kawan-kawan blogger semua sambil mampir di blog ini, mohon sekalian untuk mengisi link tanda persahabatan kita semua untuk menjalin tali silaturahmi, terima kasih.



Baca Selengkapnya ya...


gif maker
Ingin tukar link banner diatas silahkan copy code berikut ini :



Jika Anda ingin berdonasi silahkan klik dibawah ini :

100 Blog Indonesia Terbaik
Galuh Technologies Web Hosting - Registrasi Domain - Web Desain

Followers

Ikutlah bergabung disini :
Increase your PageRank

Top 10 Award

Program Affiliate



Masukkan Code ini K1-BC97EB-5
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com


Produk SMART Telecom

Blog Archive

Recent post

 

Copyright © 2009 by Laut biruku