Kamis, 23 Oktober 2008

Seri alat tangkap pukat pantai

PUKAT PANTAI
PENDAHULUAN

1. Definisi Alat Tangkap Pukat Pantai
Pukat pantai atau beach seine adalah salah satu jenis alat tangkap yang masih tergolong kedalam jenis alat tangkap pukat tepi. Dalam arti sempit pukat pantai yang dimaksudkan tidak lain adalah suatu alat tangkap yang bentuknya seperti payang, yaitu berkantong dan bersayap atau kaki yang dalam operasi penangkapanya yaitu setelah jaring dilingkarkan pada sasaran kemudian dengan tali panjang (tali hela) ditarik menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai. Pukat pantai juga sering disebut dengan krakat. Di beberapa daerah di jawa juga dikenal dengan nama “puket”, “krikit”, dan atau “kikis”.
2. Sejarah Alat Tangkap Pukat Pantai
Daerah penyebaran alat tangkap pukat panta terdapat hampir di seluruh daerah perikanan laut Indonesia, walaupun di tiap daerah punya nama dan ciri tersendiri, namun hal ini pada dasarnya hanya bertujuan untuk memudahkan pengenalan alat tangkap ini di masing-masing daerah. Misalnya alat tangkap pukat pantai yang beroperasi di teluk Segara Wedi yang labih dikenal dengan krakat prigi karena terdapat di perairan prigi kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Krakat ini sudah digunakan untuk menangkap ikan sejak jaman belanda atau sekitar tahun 30-an. Pada masa itu harga bahannya masih relative mahal, oleh karena itu baru para pegawai pemerintah Hindia Belanda saja yang memiliki. Sedangkan bahan untuk membuatnya pun masih sederhana, alat ini pada masa itu terbuat dari benang kapas dicampur dengan getah bakau pada bagian jaringnya, dan tali penarik terbuat dari penjalin dengan daya awet alat yang hanya dapat mencapai kurang labih selama 2 tahun.
Daerah penangkapan yang bertambah luas dan jauh jaraknya disebabkan dengan adanya persaingan dengan alat tangkap pukat cincin dan payang yang beroperasi di perairan yang sama sehingga jumlah ikan menjadi terbatas. Selain itu derasnya erosi di wilayah pesisir karena kurangnya pelindung menyebabkan perairan pantai terdekat menjadi dangkal.
Bagian pelampung pada pukat pantai pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu masih terbuat dari kayu dan pemberatnya dari batu dan tanah liat yang dibakar, tatapi sekarang sudah berkembang menjadi bahan sintetis karena lebih awet dan mudah perawatanya. Jumlah pemilik pukat pantai dan nelayan buruh yang mengoperasikan juga bertambah banyak dan terus berkembang.
3. Prospektif Alat Tangkap Pukat Pantai
Dalam perkembanganya pukat pantai terus mengalami kemajuan baik dalam hal distribusinya maupun bentuknya. Walaupun di masing-masing daerah munkin akan mempunyai nama yang berbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai dengan keinginan penduduk setempat. Penggunaan tenaga kerja yang cukup banyak sekitar 36 orang merupakan ciri positif dari pukat pantai bila dikaitkan dengan lapangan kerja dan perluasan kesempatan kerja. Mereka biasanya tidak dituntut untuk memiliki ketrampilan tertentu kecuali tenaga yang cukup untukmenarik jarring. Meskipun tergolong dalam alat tangkap tradisional namun pukat pantai termasuk dalam alat tangkap tradisional penting yang dapat memberikan hasil tangkap yang cukup baik. Menurut data statistik perikanan tahun 1986 jumlah pukat tapi mencapai 9.740 unit dengan jumlah seluruh alat penangkap 452.845 unit dan dengan jumlah produksi mencapai 75.363 ton. Daerah penyebaranya hampir terdapat di seluruh daerah perikanan laut Indonesia. Hal tersebut dapat menunjukkan perkembangan dari alat tangkap pukat pantai yang cukup baik.
KONSTRUKSI ALAT TANGKAP
1. Konstruksi Umum Alat Tangkap Pukat Pantai
Pada prinsipnya krakat atau pukat pantai terdiri dari bagian bagian seperti : kantong, sayap atau kaki dan tali panjang (slambar, hauling line). Bagian kantong berbentuk kerucut, bisa dibuat dari bahan waring, katunmaupun bahan sintetis seperti waring karuna, nilon, dan bahan dari plastik. Pada mulut di kantong kanan-kirinya dihubungkan dengan kaki atau sayap, sedang pada bagian ujung belakang yang disebut ekor diberi tali yang dapat dengan mudah dibuka dan diikatkan untuk mengeluarkan hasil tangkapn. Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Besar mata bagian kaki bervariasi mulai dari 6,5 cm pada ujung depan dan mengecil pada bagian pangkalnya. Pada bagian ujung depan kaki diberi atau dihubungkan dengan kayu cengkal (brail or preader). Pada tiap ujung kaki, yaitu pada ris atas dan bawah diikatkan tali yang telah diikatkan pada kayu cengkal kemudian disambungkan dengan tali hela (tali slambar, hauling line) yang panjang dan dapat dibuat menurut kebutuhan. Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Ada tiga macam pelampung yang sering digunakan yaitu: pelampung raja, pelampung biasa dan pelampung. Sedangkan pada ris bawah diikatkan dua macam pemberat yaitu dari timah dan pemberat dari rantai besi yang jarak antara satu dengan yang lainnya saling berjauhan.
2. Detail Konstruksi Alat Tangkap Pukat Pantai
Pukat pantai terdiri dari tiga bagian penting yaitu kantong (bag), badan (shoulder) dan sayap (wings). Masing-masing bagian masih terdiri atas beberapa sub bagian lagi.
a. Sayap (Wings)
Sayap merupakan perpanjangan dari bahan jaring, berjumlah sepasang terletak pada masing-masing sisi jarring. Masing-masing sayap terdiri atas:
1. Ajuk-ajuk, yang berada di ujung depan dan biasanya terbuat dari polyethyline
2. Gembungan, yang terdapat di tengah dan biasanya juga terbuat dari polyethyline.
3. Clangap, yang berada di dekat badan dan biasanya juga terbuat dari polyethyline atau bahan sintetis lainnya.
b. Kantong (Bag)
Kantong berfungsi sebagai tampat ikan hasil tangkapan, berbentuk kerucut pada ujungnya diikat sebuah tali sehingga ikan-ikan tidak lolos. Biasanya masih dibantu dengan kebo kaos untuk membantu menampung hasil tangkapan. Kantong terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai ukuran mata yang berbeda-beda. Kantong terdiri dari dua bagian, pada umumnya bagian depan berukuran mata sekitar 14 mm, berjumlah sekitar 290 dan panjang sekitar 2,20 m. Bagian belakang kira kira memiliki ukuran mata 13 mm, dengan jumlah sekitar 770, dan panjang sekitar 4 m.
c. Badan (Shoulder)
Bagian badan jarring terletak di tengah-tengah antara kantong dan kedua sayap. Berbentuk bulat panjang berfungsi untuk melingkupi ikan yang sudah terperangkap agar masuk ke kantong. Badan terdiri atas bagian depan yang mempunyai ukuran mata yang lebih kecil daripada bagian belakang dan dengan panjang serta jumlah mata yang lebih banyak daripada bagian belakang.
Kedudukan pukat pantai di perairan sangat ditentukan oleh keberadaan pelampung dan pemberat pukat pantai.
d. Pemberat (Sinker)
Pemasangan pemberat pada umumnya ditempatkan pada bagian bawah alat tangkap. Fungsinya agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap pada posisinya meskipun mendapat pengaruh dari arus serta membantu membuka mulut jaring kearah bawah.
f. Pelampung (Floats)
Sesuai dengan namanya fungsi pelampung digunakan untuk memberi daya apung atau untuk mengapungkan dan merentangkan sayap serta membuka mulut jarring ke atas pada alat tangkap pukat pantai.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas pukat pantai juga menggunakan tali temali. Tali tamali yang terdapat dalam pukat pantai ada tiga jenis, yaitu:
g. Tali Penarik (Warps) dan Tali Goci (Bridles)
Terletak pada dua ujung sayap, berfungsi untuk menarik jaring pukat pantai pada setiap operasi penangkapan. Tali ini ditarik dari pantai oleh nelayan dengan masing-masing sayap ditarik oleh sekitar 13 nelayan atau tergantung dengan panjang dan besarnya pukat pantai.
h. Tali Ris Atas (Lines)
Berfungsi sebagai tempat untuk melekatnya jaring pada bagian atas dan pelampung. Tali ini terletak pada kedua sayap
i. Tali Ris Bawah (Ground Rope)
Tali ini berfungsi sebagai tempat melekatnya jaring pada bagian bawah dan pemberat. Tali ini terletak pada kedua sayap jarring.
j. Karakteristik Alat Tangkap Pukat Pantai
Alat tangkap pukat pantai termasuk jenis pukat yang berukuran besar. Banyak dikenal di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan , Pelabukan Ratu, Maringge (Sumatra Selatan). Bentuknya seperti payang dan bersayap. Prinsip pengoperasianya adalah menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai. Dalam pengoperasiannya pukat pantai yang berukuran bear memerlukan tenaga sampai puluhan orang lebih. Kantong pada pukat pantai biasanya berbentuk kerucut dan terbuat dari katun maupun bahan sintetis lain. Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai biasanya jenis-jenis ikan pantai yang hidup di dasar dan termasuk juga jenis udang. Dalam pengoperasiannya kapal atau perahu yang digunakan bervariasi. Sampai sekarang penggunaan alat tangkap pukat pantai ini terus menerus mengalami perkembangan baik dalam halperubahan model maupun penyebaran atau distribusinya.
k. Bahan dan Spesifikasinya
Seperti yang telah disebutkan pada konstruksi maupun detail konstruksi, pada prinsipnya pukat pantai terdiri dari bagian-bagian kantong yang berbentuk kerucut yang bisa dibuat dari bahan waring, katun maupun bahan sintetis lain seperti waring karuna, nilon bahan dari plastic maupun polyethylene (PE). Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Pelampung ini kebanyakan terbuat dari bahan sintetis yang bersifat mudah mengapung atau tidak tenggelam dan biasanya berbentuk silinder. Sedangkan pada ris bawah diikatkat pemberat yang bisa terbuat dari timah atau dapat pula digunakan rantai besi. Pada masa dahulu masih digunakan pemberat yang terbuat dari bahan liat maupun batu. Namun sekarang sudah jarang digunakan karena daya awetnya rendah.
HASIL TANGKAPAN
Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai terutama jenis-jenis ikan dasar atau jenis ikan demersal dan udang antara lain yaitu; pari (rays), cucut (shark),teri (stolepharus spp), bulu ayam (setipinna spp), beloso (saurida spp), manyung (arius spp), sembilang (plotosus spp), krepa (epinephelus spp), kerong-kerong (therapon spp), gerot-gerot (pristipoma spp), biji nangka (parupeneus spp), kapas-kapas (gerres spp), petek (leiognathus spp), ikan lidah dan sebelah (psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).
Sedangkan untuk pembagian hasil tangkapan, hal ini sudah diatur sesuai dengan undang-undang no 16 tahun 1964 tentang pembagian hasil usaha perikanan tangkap untuk operasi penangkapan ikan di laut dengan menggunakan perahu layar, nelayan penggarap minimal mendapat 75% dari hasil usaha bersih.
DAERAH PENANGKAPAN
Daerah penangkapan ikan adalah suatu daerah perairan yang cocok untuk penangkapan ikan dimana alat tangkap dapat kita operasikan secara maksimum. Syarat-syarat suatu daerah dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan bila :
1. Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya
2. Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah
3. Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi daerah perlu diperhitungkan.
Pada umumnya krakat atau pukat pantai banyak dikenal dan dipergunakan di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Pelabuhan Ratu, Marigge (Sumatra Selatan), dan banyak pula digunakan di daerah Jawa. Sedangkan distribusi pukat pantai ini meliputi daerah Labuhan, Teluk Panganten, Jakarta, Cirebon, Brebes, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Juana, Rembang, Tuban, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Panarukan, Banyuwangi, Muncar, Sepanjang pantai Madura, Lampung, Prigi, Pangandaran, Teluk Betung, Maringge, Seputih dan lain-lainnya.
Biasanya daerah penangkapan untuk alat pukat pantai ditentukan berdasarkan tanda-tanda alamiahn seperti terlihatnya buih-buih di permukaan perairan atau adanya burung yang menyambar-nyambar, namun kebanyakan nelayan menggunakan cara dengan mencoba menurunkan jaring pada daerah yang sudah biasa dijadikan daerah penangkapn oleh nelayan pukat pantai di masing-masing daaerah.
Dulu ketika jumlah unit pukat pantai masih terbatas, penggunaan daerah penangkapan tidak pernah menjadi permasalahan antara pemilik pukat pantai. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah pemilik pukat pantai maka pada masing-masing daerah atau wilayah penangkapan dikenal adanya sistem pembagian daerah penangkapan pukat pantai dengan membagi daerah penangkapan menjadi beberapa bagian dan pada tiap bagian berlaku adanya pembagian jadwal operasi.
ALAT BANTU PENANGKAPAN
Selain bagian-bagian dari pukat pantai sendiri, dalam pengoperasiannya pukat pantai masih menggunakan alat bantu penangkapan diantaranya adalah :
1. Perahu
Perahu yang dipergunakan dalam pengoperasian pukat pantai ini bervariasi. Akan tetapi biasanya berukuran panjang 5-6 m, lebar 0.6 m dan dalam atau tinggi 0.7 m. Perahu ini ada yang dilengkapi dengan katir/sema (outriggers) maupun tidak. Ada yang dilengkapi dengan motor dan ada juga yang tanpa motor (perahu dayung). Untuk perahu dayung biasanya terbuat dari bahan kayu. Kelebihan dari material kayu selain harganya lebih murah, tehnologinya sederhana, material mudah didapat, pembentukannya mudah ringan dan perawatanya juga mudah.
2. Pelampung Berbendera
Pelampung berbendera ini berfungsi sebagai tanda posisi kantang pukat pantai di perairan dan sebagai petunjuk bagi mandor tentang keseimbangan posisi jarring antara kiri dan kanan. Sehingga dengan melihat bendera, mandor dapat dengan mudah mengetahui kapan posisi penarik harus bergeser dan seberapa jauhnya jarak pergeseran.
3. Kayu Gardan
Kayu garden ditancapkan dengan kokoh di pantai. Fungsi dari kayu ini adalah sebagai penggulung tali penarik dan sebagai tempat untuk menambatkan tali penarik. Kayu ini terbuat dari kayu pohon yang kuat misalnya kayu kopi, kayu waru dan sebagainya.
TEKNIK OPERASI ALAT TANGKAP PUKAT PANTAI
Tahap Persiapan
Kira-kira sebanyak 6 orang nelayan naik ke perahu yang ditambat di dekat pantai untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi operasional penangkapan. Jaring dan tali disusun sedemikian rupa dengan dibantu para nelayan penarik untuk mempermudah operasi penangkapan terutama pada waktu penawuran (setting). Urut-urutan susunan alat dalam perahu mulai dari dasar adalah sebagai berikut : gulungan tali penarik I, sayap I, badan, kantong, sayap II dan teratas adalah gulungan tali penarik II. Diatur pula letak pelampung pada bagian sisi kanan menghadap kea rah laut dan pemberat di sebelah kiri menghadap kea rah pantai. Salah satu ujung tali hela (penarik) diikatkan pada patok kayu di pantai kemudian perahu dikayuh menjauhi pantai.
Tahap Penawuran (Setting)
Perahu dikayuh menjauhi pantai sambil menurunkan tali hela II yang ujungnya telah diikatkan pada patok di daratan pantai. Apabila syarat-syarat fishing ground telah ditemukan dan jarak sudah mencapai sekitar 700 m (sepanjang tali hela) dari pantai, perahu mulai bergerak ke kanan sambil menurunkan jaring. Penurunan jaring diusahakan agar membentuk setengah lingkaran menghadap garis pantai. Urutan penurunan dari perahu sebelah kiri berturut-turut sayap II, badan dan kantong serta sayap I, kemudian tali hela diulur sambil mengayuh perahu mendekati pantai dan pada saat mendekati pantai ujung tali penarik yang lain dilempar ke pantai dan diterima oleh sekelompok nelayan yang lain. Setelah kedua ujung tali penarik berada di pantai, masing-masing ujung ditarik oleh sekelompok nelayan yang berjumlah sekitar 13 orang per kelompok. Pada saat itu perahu kembali kelaut untuk mengambil tali kantong dan mengikuti jaring hingga ke pantai selama penarikan jaring.
Kecapatan perahu dalam menebarkan jaring dapat dihitung dengan mengetahui jarak yang telah ditempuh perahu dan lamanya waktu penebaran. Sedangkan kecepatan penawuran dapat diperoleh dengan menghitung panjang pukat pantai dibagi dengan lama penawuran.
Tahap Penarikan (Hauling)
Ketika ujung tali hela I telah sampai di pantai, penarikan jaribng dimulai. Jarak antara ujung tali penarik I dan II kurang lebih 500 m, masing-masing ditarik oleh nelayan berjumlah sekitar 13 orang. Sambil secara bertahap saling mendekat bersamaan dengan mendekatnya jarring ke pantai. Perpindahan dilakukan kira-kira sebanyak 4 kali dengan perpindahan ke 4 pergeseran dilakukan terus menerus hingga akhirnya bersatu. Ketika sayap mulai terangkat di bibir pantai, penarikan di komando oleh seorang mandor untuk mengatur posisi jarring agar ikan tidak banyak yang lepas. Bersamaan dengan itu perahu dikayuh menuju ujung kantong yang diberi tanda dengan bendera yang terpasang pada pelampung. Salah satu dari crew penebar mengikatkan kebo kaos pada bagian ujung kantong. Kebo kantong tersebut dimaksudkan sebagai tempat ikan hasil tangkapan agar jarring tidak rusak akibat terlalu banyak muatan. Sambil memegang kebo kaos tersebut nelayan berenang mengikuti jarring sampai ke pinggir pantai. Kecepatan penarikan dapat dihitung dengan cara membagi panjang keseluruhan dengan lamanya penarikan.
Tahap Pengambilan Hasil Tangkap
Sayap dan badan pukat pantai terus ditarik dan bila kedua bagian ini telah berada di daratan pantai, kantong ditarik dan hasil tangkapan dikeluarkan dari kantong. Selanjutnya ikan yang jenisnya bermacam-macam tersebut disortir dengan memisahkan dan memasukkanya ke dalam keranjang tempat yang telah disediakan. Selain itu sebagian nelayan ada yang menaikkan tali penarik dan jating ke daratan untuk dirawat atau mempersiapkan pengoperasian tahap berikutnya.
HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
Hal-hal yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan diantaranya adalah :
1. Penentuan fishing ground yang tepat
2. Pengaturan posisi pukat pantai yang digunakan
3. Kecepatan penebaran dan penaikkan jarring
4. perawatan, daya awet sertaefektifitas pukat pantai yang digunakan
5. Lamanya waktu pengoperasian
6. Kondisi perahu dan alat bantu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.1976.FISHERMAN’S MANUAL.World Fishing. England.
Anonimous.1975.FAO CATALOGUE OF SMAIL SCALE FISHING GEAR.FAO of UN.
Ayodya.1975.FISHING METHODS DIKTAT KULIAH ILMU TEHNIK PENANGKAPAN IKAN. Bagian Penangkapan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.
Subani dan Barus.1989. ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN UDANG LAUT DI INDONESIA. Balai Perikanan Laut. Jakarta.
Baca Selengkapnya ya...

Kamis, 16 Oktober 2008

Trammel net (Jaring tiga lapis)

TRAMMEL NET (Jaringan Udang)

TRAMMEL NET merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang banyak digunakan oleh nelayan. Hasil tangkapannya sebagian besar berupa udang, walaupun hasilnya masih jauh dibawah pukat harimau (trawl). Di kalangan nelayan, Trammel net sering disebut juga "Jaring kantong", " Jaring Gondrong" atau "Jaring Udang".
Sejak pukat harimau dilarang penggunaannya, Trammel net ini semakin banyak digunakan oleh nelayan. Konstruksi dan desain Trammel net sangat sederhana sehingga mudah dibuat sendiri oleh nelayan. Alat tersebut merupakan jaring berbentuk empat persegi panjang dan terdiri dari tiga lapis jaring, yaitu : dua lembar "jaring luar" dan satu lembar "jaring dalam". Agar alat tersebut terbuka tegak lurus di perairan pada saat dioperasikan, maka Trammel net dilengkapi pula dengan pelampung, pemberat dan tali ris. Dengan demikian alat ini digolongkan juga sebagai jaring insang (gill net). Bedanya kalau Trammel net terdiri dari 3 lapis jaring, sedangkan gill net hanya 1 lapis jaring. Dengan konstruksi tersebut, Trammel net sering juga disebut sebagai "Jaring insang berlapis tiga' (triple net ).

Biasanya tertangkapnya ikan atau udang pada Trammel net karena tersangkut jaring dan bukanya terjerat pada insangnya. Sehingga pada saat melepaskan hasil tangkapan (ikan atau udang) agak sulit dan bila bahan jaring tidak kuat dapat mengakibatkan jaring tersebut sobek. Oleh karena itu agar Trammel net mempunyai daya tahan lebih tinggi dan lebih efisien, maka konstruksi jaring dan ukuran benang harus kuat. Sebagai bahan untuk pembuatan tubuh jaring (daging jaring) sebaiknya 'digunakan bahan sintetis yaitu Polyamide (PA). Sedangkan untuk bagian pinggiran jaring (selvage) digunakan bahan dari Polyethylene (PE).

KONSTRUKSI ALAT.
1. Tubuh Jaring.
Tubuh jaring (webbing) atau daging jaring merupakan bagian jaring yang sangat penting, karena pada bagian inilah udang atau ikan tertangkap secara terpuntal ( tersangkut ) jaring.
Tubuh jaring terdiri dari 3 lapis, yaitu 1 lapisan jaring dalam dan 2 lapisan jaring luar yang mengapit lapisan jaring dalam. Ukuran mata jaring lapisan dalam lebih kecil dari pada ukuran mata jaring lapisan luar.
  • Lapisan jaring dalam terbuat dari bahan Polyamide (PA) berukuran 210 dp-210 d4. Ukuran mata jaring nya berkisar antara 1,5 - 1,75 inchi ( 38,1 mm -44,4 mm ). Setiap lembar jaring mempunyai ukuran panjang 65,25 m ( 1.450 mata ) dan tingginya 51 mata.
  • Lapisan jaring luar juga terbuat dari Polyamide (PA) hanya saja ukuran benangnya lebih besar yaitu 210 d6. Setiap lembar jaring panjangnya terdiri dari 19 mata dan tingginya 7 mata dengan ukuran mata jaring 10,4 inchi ( 265 min ).

2. Selvage ( Srampat ).
Untuk memperkuat kedudukan jaring pada penggantungnya, makes pada bagian pinggir jaring sebelah atas dan bawah dilengkapi dengan selvage (srampat). Selvage tersebut berupa mata jaring yang dijurai dengan benang rangkap sehingga lebih kuat. Selvage tersebut mempunyai mata jaring berukuran 45 mm, dan terdiri dari 1 - 2 mata pada pinggiran jaring bagian atas dan 5 - 6 mata pada pinggiran jaring bagian bawah. Sebagai bahan selvage sebaiknya Kuralon atau Polyethylene (PE) dengan ukuran 210 d4 - 210 d6.

3. Tali Ris.
Trammel net dilengkapi dengan dues buah tali ris yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Fungsi tali ris adalah untuk menggantungkan tubuh jaring dan sebagai penghubung lembar jaring satu dengan lembar jaring lainnya secara horizontal (memanjang). Sebagai bahan untuk pembuatan tali ris adalah Polyethylene (PE) dengan garis tengah tali 2 - 4 mm. Panjang tali ris atas berkisar antara 25,5 - 30 m, sedangkan tali ris bawah antara 30 - 32 m.

4. Pelampung.
Pelampung merupakan bagian dari ,Trammel net yang berfungsi sebagai pengapung jaring pada saat diopera4,ikan. Jenis pelampung yang digunakan adalah plastik No. 18 dengan jarak pemasangan antara 40 - 50 cm. Tali pelampung terbuat dari bahan Polyethylene dengan garis tengah 3 - 4 mm

5. Pemberat.
Pada Trammel net, pemberat berfungsi sebagai pemberat jaring pada saat dioperasikan. Dengan adanya pelampung dan pemberat tersebut, maka jaring dapat terbuka secara tegak lurus di perairan sehingga dapat menghadang ikan atau udang yang menjadi tujuan penangkapan. Pemberat tersebut dibuat dari bahan timah ( timbel ) yang berbentuk lonjong, dengan berat antara 10 - 13 gram/buah. Pemasangan pemberat dilakukan dengan jarak antara 19 - 25 cm, pada sebuah tali yang terbuat dari Polyethylene dengan garis tengah 2 mm. Disamping itu biasanya pada jarak 12 m dari ujung jaring pada tali yang diikatkan ke kapal masih dipasang pemberat tambahan dari batu seberat kira-kira 20 kg.

6. Tali Penghubung ke Kapal.
Trammel net juga dilengkapi dengan tali yang terbuat dari Polyethylene bergaris tengah 7,5 - 10 mm untuk menghubungkan jaring dengan kapal dan juga sebagai penghubung antara jaring dengan pelampung utama ( berbendera ) sebagai tanda. Selain itu juga dilengkapi sebuah swivel dengan garis tengah 6 - 7,5 cm yang dipasang pada sambungan tali ke kapal dan kedua tali ris Was dan bawah).


CARA PENANGKAPAN.
1. Cara Lurus.
Cara ini adalah yang biasa dilakukan oleh para nelayan, Jumlah lembaran jaring berkisar antara 10 - 25 tinting. Perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor atau motor tempel, dengan tenaga kerja antara 3 - 4 orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar laut secara lurus dan berdiri tegak. Setelah ditunggu selama 1/2 - 1 jam, kemudian dilakukan penarikan dan penglepasan ikan atau udang yang tertangkap.

2. Cara Setengah Lingkaran.
Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam ( inboard motor). Satu unit Trammel net dapat mengoperasikan jaring 60 - 80 tinting dengan tenaga kerja sebanyak 8 orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar perairan dengan melingkarkan jaring hingga membentuk setengah lingkaran Kemudian ditarik ke kapal dan ikan & udang yang tertangkap dilepaskan.

3. Cara Lingkaran.
Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam seperti pada cara setengah lingkaran. Caranya adalah dengan melingkarkan jaring di dasar perairan hingga membentuk lingkaran. Setelah itu jaring ditarik ke kapal dan udang & ikan yang tertangkap diambil.

HASIL TANGKAPAN.
Beberapa jenis ikan yang tertangkap dengan Trammel net terdiri dari jenis ikan dasar. Misalnya ikan Pari, Gulamah, Kerot-kerot, Udang dan lain-lain.

Baca Selengkapnya ya...

Rabu, 15 Oktober 2008

Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net ) induk udang

Jaring tiga lapis (trammel net) induk udang merupakan salah satu alat tangkap dari jenis jaring insang (gill net) yang dipergunakan untuk menangkap induk udang dengan cara terpuntal dan banyak dipergunakan oleh nelayan skala kecil.
Ada 2 (dua) macam trammel net, yakni trammel net udang dan trammel net induk udang yang terdiri dari dua lapis jaring luar (outer net) dan satu lapis jaring dalam (inner net). Ukuran banyaknya pis jaring tiga lapis tergantung dari ukuran tonase kapal. Pengoperasian trammel net dipasang tegak dengan cara aktif atau pasif di dasar perairan.
Sampai sekarang belum ada unsur/elemen penilaian kesesuaian untuk penentuan karakteristik konstruksi jaring tiga lapis induk udang dalam rangka standardisasi sarana perikanan tangkap. Untuk itu diperlukan unsur penilaian kesesuaian, yang terdiri dari standar bentuk baku konstruksi, standar bahan dan perlengkapan serta standar pengujian trammel net induk udang.
Penentuan bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis induk udang didasarkan acuan standar bentuk baku konstruksi. Untuk membuat acuan standar bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis induk udang dilakukan dengan pengumpulan data dan kajian teknis beberapa jaring tiga lapis milik nelayan skala kecil, baik ukuran konstruksi maupun karakteristik konstruksi jaring.
Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net ) induk udang ini dapat menjadi bahan parameter uji visual, studi literatur/pustaka, studi lapang dan uji laboratorium.

untuk lebih lengkapnya anda dapat melihat pada link berikut ”>Lihat disini
Baca Selengkapnya ya...

Selasa, 14 Oktober 2008

Check google page rank blogmu

Siapa yang tidak tahu mesin pencari yang satu ini, Google merupakan salah satu mesin pencari yang paling terkenal dan paling bagus yang ada di planet ini. Kita dapat membayangkan bila saja kita tidak mengenal apa itu emsin pencari seperti google. Pasti pekerjaan kita untuk mencari informasi apapun di jagat internet akan terasa sangatlah susah dan sangat membosankan.
Hampir dapat dipastikan semua orang yang mempunyai blog, akan mendaftarkan blognya tersebut ke google, hal ini dikarenakan. Bila kita sudah mendaftarkan blog kita ke berbagai macam mesin pencari apalagi mesin pencari seperti google. Maka secara otomatis blog kita akan dapat lebih mudah ditemukan di jagat internet.
Sebagai contoh, teman-teman bisa mengetikkan kata "laut biruku" di google untuk menemukan blog saya ini. Nah hal yang paling menyenangkan adalah ketika blog kita berada dalam posisi paling atas dalam setiap kali google keywords yang dimasukkan user.
Nah ini lah yang disebut dengan Goole page rank. Hal yang sangat penting untuk para blogger untuk mengetahui bagaimana si peringkat blognya di google. Nah bagi teman-teman yang ingin tahu bagaimana posisi blog nya di google bisa menggunakan tool yan satu berikut ini :
Check Page Rank of any web site pages instantly:



This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Baca Selengkapnya ya...

Peraturan tentang penggunaan alat penangkapan ikan jaring ingsang (Gill Net) di ZEEI

Berikut adalah peraturan yang membahas tentang penggunaan sebuah alat tangkap ikan di Indonesia, aturan tersebut adalah “Peraturan Menteri kelautan dan perikanan Republik Indonesia nomor PER.08/MEN/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan jarring insang (gill net) di zona ekonomi eklusif Indonesia” untuk lebih jelasnya dapat dilihat DISINI
Baca Selengkapnya ya...

Merubah Document PowerPoint menjadi Video

DVD / VCD sebagai Media Alternatif dalam Presentasi

Pernahkah anda kesulitan ingin mempresentasikan makalah, materi, atau produk anda dengan powerpoint karena tidak ada komputer / notebook ? Mungkin anda telah bersusah payah membuat bahan presentasi dengan powerpoint, tetapi tidak bisa ditampilkan karena tidak ada komputer / notebook atau infocus / proyektor.
Untuk dapat menampilkan bahan presentasi dengan powerpoint, minimal membutuhkan komputer / notebook, dan infocus. Keduanya mutlak dan sangat jarang disediakan ditempat kerja, kantor, atau sekolah. Hal ini disebabkan oleh karena masih mahalnya hardware tersebut. Tetapi TV dan VCD / DVD player lebih sering kita jumpai ditempat-tempat kerja, kantor atau sekolah. Sekarang, pernahkah terpikirkan untuk mempresentasikan pada sebuah TV dengan VCD / DVD player ?
Merubah presentasi powerpoint menjadi VCD / DVD bisa dilakukan dengan salah satu trik berikut ini, namun perlu diketahui semua trik - trik ini memiliki kekurangan dan kelebihan jadi pilih yang sesuai dengan kemampuan anda :
Pertama, dengan bantuan VCR / Camera Video. Trik yang ini tentu memerlukan modal yang sangat besar, memang kualitas bagus. Anda cukup mengarahkan camera tersebut tepat pada monitor dan menghubungkan kabel audio dengan line out dari speaker agar kualitas suara lebih baik, kemudian diedit dan dikonvert menjadi DVD / VCD.
Kedua, menggunakan software screen recording seperti Camtasia Studio dari TechSmith, cara ini lebih hemat dari cara yang pertama. Software ini merekam semua aktivitas yang ditampilkan pada layar monitor, gerakan cursor mouse hingga sound effect. Caranya cukup mudah seperti menggunakan trik kamera video. Anda dapat mendownload sofware ini versi trial-nya pada http://www.techsmith.com/download/ studiofreetrial1.asp. Setelah itu hasil rekamannya diedit dan dikovert menjadi DVD / VCD dengan sofware pembakar seperti Nero.
Ketiga, menampilkan dalam bentuk VCD / Picture Slide Show. Bentuknya hanya sebatas menampilkan gambar-gambar, seperti presentasi dengan slide proyektor. Keuntungannya pemprosesannya sederhana, mudah, cepat dan gratis.

Kekurangan trik ini adalah animasi dan suara yang anda dibuat pada powerpoint hilang, tidak ada efek-efek animasi yang ditampilkan, serta suara – suara efek animasi pun hilang,.Cara trik ini sebagai berikut:
  • Buka file powerpoint (.PPT, .PPS, dll) yang ingin anda inginkan.
  • Kemudian simpan file tersebut dalam format pictures (.BMP, .JPG, .TIFF, .GIF, .PNG, atau .WMF). Dengan cara klik File  Save As  pilih Save as type dengan salah satu format picture, misalnya .BMP. tekan Enter atau klik Save. (sebaiknya disimpan dalam satu folder baru, misal Image)
  • pilih Every Slide untuk menyimpan semua slide dalam format .BMP.
  • kemudian akan muncul informasi dimana slide-slide tersebut telah disimpan. Klik OK atau tekan Enter.
  • Buat file-file tersebut menjadi VCD dengan software pembakar seperti Nero Burning ROM.
  • buat New Compilation  Video CD  klik New. Drag file- file bmp tadi ke vcd compilation. .Kemudian klik Burning Compilation  Burn.

Pada trik ini sebaiknya menggunakan format .TIFF atau .BMP agar kualitas gambar baik tanpa kompresi, dan lagi pula nantinya akan disimpan pada media CD yang kapasitasnya cukup besar (650MB), kira-kira dapat memuat 300 slide.Dengan demikian sebenarnya bisa dibuat format DVD pada keping CD agar kualitasnya lebih tajam, tidak buram.


Trik ini pun bisa diberikan sound effect atau music pengiring, setelah langkah 4 dilakukan langsung gambar-gambar tersebut diedit dengan Windows Movie Maker. Import (Crtl+I) gambar-gambar slide tadi serta sound effect koleksi anda. dan drag silde secara berurutan ke kotak-kotak StoryBoard dibawah. Kemudian rubah storyboard menjadi timeline dengan menekan icon timeline pada pojok kiri atas dari storyboard. Lalu drag file sound effect pada bar bagian suara (dibawah timeline), atau bisa juga anda rekam suara anda untuk menjelaskan silde tersebut dangan menekan icon mic. Atur waktu tayang tiap slide, sesuaikan dengan suara atau narasi anda. Setelah selesai simapan dalam format video dengan mengklik Save Movie (Ctrl+M), pilih High Quality, atau other dan pilih DV-AVI NTSC. Buat dan konver dalam VCD dengan software pembakar seperti langkah 6.
Keempat, dengan bantuan Software PowerPoint to DVD. Trik yang keempat ini sangat mudah namun mahal, memang kualitas bagus dan proses cepat. Ada beberapa software yang kita bisa cari dengan search engine dan di download versi trialnya. Salah satunya PowerPoint DVD Maker Ver1.5. Bisa anda download freetrialnya pada http://www.topshareware.com/PowerPoint-DVD-Maker-download-14502.htm, software ini bersifat shareware, harganya $149 atau Rp1.415.500,- bila kurs dolar Rp 9500,-. Dan selain itu memerlukan hardware DVDRW. Mudah dalam pengoperasiannya karena anda cukup mengikuti dalam 3 langkah mudah, dokumen powerpoint anda sudah jadi dalam bentuk DVD. Langkah pertama masukkan file-file dokumen PowerPoint (.Ptt), kedua membuat main menu hanya dengan memilih template yang telah disediakan, dan terakhir pilih DVDRW serta klik tombol Make DVD. Cukup mudah bukan? .


Dari ke empat cara ini memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi sebaikkanya pilih yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda. Semoga tulisan ini bisa menjadi solusi lain dalam presentasi dan selamat mencoba!

> Baca Selengkapnya ya...

Alat tangkap long line

PENANGKAPAN IKAN DENGAN LONG LINE


Long line terdiri dari rangkaian tali utama ,tali pelampung dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan lebih kecil dia meternya, dan diujung tali cabang ini diikat pancing yang berumpan. Ada beberapa jenis long line. Ada yang dipasang didasar perairan serta tetap dalam jangka waktu tertentu dikenal dengan nama rawai tetap atau bottom long line atau set long line yang biaanya digunakan untuk menangkap ikan ikan demarsal .ada juga rawai yang hanyut yang biasa disebut degan dript long line, biasanya digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis .yang paling terkenal adalah tuna long line atau disebut juga dengan rawai tuna,.walaupun dalam kenyataannya bahwa hasil tangkapnnya bukan bukan ikan tuna tetapi juga jenis0jenis ikan lain seperti layaran ,ikan hiu dan lain-lain. Secara perinsip rawai tuna sama seperti rawai-rawai lainnya,namun mengingat faktor biologi ikan sasaran ,tekhnik pengoperasian alat,komponent alat bantu ,kapal yang tersedia, maka dilakukan berbagai penyesuaian.bahan tali pancing terbuat dri bahan monofilament(PA) atau multifilamant (PES seperti terylene, Pva seperti kuralon atau PA seperti nylon).perbedaan pemakaian bahan ini akan mepengaruhi line hauler yang diperlukan.beberapa perbedan dari kedua jenis bahan tersebut dipandang dari segi teknis adalah sebagai berikut.

  • Bahan multifilament lebih berat dan mahal dibandingkan dengan monofilament, lebih mudah dirakit,dan lebih sesuai untuk kapal-kapal kecil.
  • Bahan multifilamant lebih mudah ditangani dan lebih tahan lama.karena itu,dalam jangka panjang rawai multifilament harganya relatif lebih rendah.
  • Karena lebih kecil, halus, dan transparan maka pemakaian monfilament dinilai akan memberi hasil tangkapan lebih baik dari multifilament.

Dilihat dari segi kedalaman operasi (fishing depth) rawai tuna dibagi dua yaitu bersifat dangkal dan yang bersifat dalam yang pancingnya berada pada kedalaman 100-300m. Perbedaan kedua jenis ini disebabkan pada tipe dangkal satu basket rawai diberi sekitar 5 pancing sedangkan pada tipe dalam diberi 11-13 pancing sehingga lengkungan tali utama, menjadi lebih dalam. Dalam beberapa sifat dari kedua tipe ini adalah :

  • Rawai tipe dalam memerlukan line hauler yang lebih kuat dibanding tipe dekat permukan.
  • Rawai tipe dalam menangkap jenis big eye yang lebih banyak ( sehingga nilai produksinya lebih baik )dibanding tipe permukaan.tuna yang tertangkap dengan rawai dangkal didominasi oleh yellowfin tuna yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan big eye.Pelepasan pancing (setting) dilakukan menurut garis serong atau tegak lurus pada arus.waktu melepas pancing biasanya dini hari tergantung jumlah basket yang akan dipasang karena diharapkan setting selesai pada pagi hari jam 07.00 saat ikan giat cari mangsa.akan tetapi pengoperasian siang hari pun bisa dilakukan .namun akibatnya penarikan pancing (hauling )jatuh pada waktu sore hari.

Umpan yang umum dipakai adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat,tidak cepat busuk,dan rangka tulangnya kuat sehingga tidak mudah lepas dari pancing bila tidak di sambar ikan.beberapa jenis diantaranya adalah bandeng,saury,tawes, kembung,layang, dan cumi-cumi.panjang umpan berkisar antara 15-20 cm, dengan berat 80-150 gram.cumi0cumi kecil masih dapat dipakai asalkan digabung (dijahit) beberapa ekor sehingga menjadi cukup besar.umpan ini harus berasal dari ikan-ikan yang benar-benar segar dan dilakukan dengan baik agar tahan dalam waktu yang lama.

Bagian-bagian dari tuna long line

Seperti alat penangkap lainnya ,satu unit long line terdiri dari kapl yang dirancang khusus,alat penangkap dan crew.kapal-kapal tuna long line modern bagian belakang dari kapal ini telah dirancang dengan baik untuk mudah operasi dan pengaturan alat penangkap. Tuna long line sendiri pada umumnya terdiri dari : pelampung, bendera, tali pelampung, main line,branch line,pancing wire leader,dan lain-lain.antara pelampung dengan pelampung dihubungkan dengan tali pelampung dan tali utama dimanasepanjan tali utama terpasang beberapa tali cabang.satu rangkaian alat inilah yang disebut dengan satu basket long linejumlah mata pancing pada setiap basket bervariasi.untuk lebih detail pengetahuan tentang alatini kita lihat bagian demi bagian.

1. Pelampung (float)

Pelampung yang digunakan pada long line terdiri dari beberapa jenis yaitu pelampung bola,pelampung bendera,pelampung radio, dan pelampung lampu.warna pelampung harus berbeda atau kontras dengan warna air laut.hal ini dimakasudkan untuk mempermudah mengenalnya darijarak jauh setelah setting.

  • Pelampung bola
    Pelampung bola biasanya terpasang padaujung basket dari alat tangkap.pelampung bola ini terbuat dari bahan sintetic dengan dimeter 35 cm dan ada yang lebih besar.untuk long line dengan jumlah basket 70 maka jumlah pelampung bola yang digunakan adalah 68 buah, pada ujungnya terdapat pipa setinggi 25 cm dan stiker scotlight yang sengat berguna bila alat penangakap tersebut terputus maka mudah menemukannya.untuk melindungi pelampung-pelampung tersebutdari benturan yang dapat menyebabkan pecahnya pelampung tersebut, maka pelampung tersebut dibalut dengan anyaman tali polyehylene dengan diameter 5mm.
  • Pelampung bendera
    Pelampung bendera merupakan pelampung yang pertamakali diturunkan pada waktu setting dilakukan. Biasanya diberi tiang (dari bambu atau bahan lain) yang panjangnya bervariasi sekitar 7 m dan diberi pelampung.supaya tiang ini berdiri tegak maka diberi pemberat.
  • Pelampung lampu
    Pelampung ini biasanya menggunakan balon 5 watt yang sumberlistriknya berasal dari baterai yang terletak pada bagianu ujung atas pipa atau bagian bawah ruang yang kedap air.pelampung ini dipasang pada setiap 15 basket yang diperkirakan hauling pada malam hari.fungsinya adalah untuk penerangan pada malam hari dan memudahkan pencarian basket bila putus.
  • Pelampung radio bouy
    Sebuah radio bouy dilengkapi dengan transmiter yang mempunyai frekuensi tertentu.daerah tranmisinya bisa mencapai 30 mil.jika dalam pengoperasian long line menggunakan radio bouy,maka kapal harus dilengkapi dengan radio direction finder(RDF).peralatan ini berfungsi untuk menunjukan arah lokasi radio bouy dengna tepat pada waktu basket putus.

2. Tali pelampung

Tali pelampung berfungsi untuk mengatur kedalaman dari alat penangkap sesuai dengan yang dikehendaki.tali pelampung ini biasanya terbuat dari bahan kuralon.

3. Tali utama (main line)

Tali utama atau main line adalah bagian dari potongan-potongan tali yang dihubungkan antara satu dengan yang lainsehingga membentuk rangkaian tali yang sangat panjang.tali utama harus cukup kuat karena menanggung beban dari tali cabang dan arikan ikan yang terkait pada mata pancing.pada kedua ujung pada main line dibuat simpul mata. Main line basanya terbuat dari bahan kuralon yang diameternya 0,25 inci atau lebih. Panjang main line tergantung dari panjang dan jumlah branch line,karena setiap penemuan kedua ujung main line merupakan tempat pemasangan branch line.

4. Tali cabang (branch line)

Bahan dari tali cabang biasanya sama dengan tali utama, perbadaanya hanya pada ukuran saja,dimana ukuran tali cabang lebih kecildari tali utama.satu set tali cabang ini terdiri dari tali pangkal, tali cabang utama, wire leader yang berfungsi agar dapatmenahan gesekan pada saat ikan terkait pada pancing, dan pancing yang terbuat dari bahan baja, biasnaya menggunakan pancing no.7 Umpan merupakan bagian yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penangkapan ikan dengan tuna long line.ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi umpan pada alat penangkap ini antara lain adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat dengan warna yang menarik sehingga dengan mudah dapat dilihat pada jarak yang jauh,kemudian tidak cepat busuk,rangka tulang kuat sehingga tidak mudah lepas dari pancing bila tidak disambar ikan, mempunyai bau yang cukup tajam dan merangsang serta disukai oleh ikan yang dipancing, tersedia dalam jumlah yang besar,dan murah harganya. Ikan bandeng, ikan kembung, ikan layang dan cumi-cumi merupakan jenis umpan yang banyak digunakan.

5. Perlengkapan lainnya

Perlengkapan lainnya yang dimaksud adalah alat-alat yang dipergunakan untuk mempermudah dan mememperlancar kegiatan operasi penangkapan diakapl antara lain adalah radar, RDF, line hauler, marline spike, catut potong, ganco, sikat baja, jarum pembunuh, pisau, dan lain-lain. Tekhnik operasi penangkapan Setelah semua persiapan telah dilakukan dan telah tiba di fishing ground yang telah ditentukan . setting diawali dengan penurunan pelampung bendera dan penebaran tali utama, selanjutnya dengan penebaran pancing yang telah dipasangi umpan.rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing 0,6 menit/ pancing.pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus terhadap arus.waktu melepas pancing biasanya wktu tengah malam,sehingga pancing telah terpasang waktu pagi saat ikan sedang giat mencari mangsa. Akan tetapi, penggoperasian pada siang hari dapat pula dilakukan. Penarikan alat penangkap dilakukan setelah berada didalam air selama 3-6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang diatur kecepatannya. Masing-masing anak buah kapal telah mengetahui tugasnya sehingga alat penangkap dapat diatur dengan rapi.lamanya penarikan alat penangkap sangat ditentukan oleh banyakny hasil tangkapan dan faktor cuaca. Penarikan biasanya memakan waktu 3 menit / pancing.perusahaan perikanan samudra bedar di bali melakukan hauling sekitar 9-11 jam. Selanjutnya dilakukan penanganan hasil tangkapan dan persiapan operasi selanjutnya. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tampilan slide berikut:

sebelum nya install flash player untuk menjalankan file ini, dapat didownload pada: http://www.adobe.com/shockwave/download/download.cgi?1_Prod_Version=ShockwaveFlash

Baca Selengkapnya ya...

Senin, 13 Oktober 2008

Operasi penangkapan dengan Purse Seine

Operasi penangkapan ikan dengan alat tangkap jaring lingkar dengan tali kerut biasanya dilakukan pada malam hari yaitu terutama penangkapan yang mengunakan alat bantu lampu (cahaya). Sedangkan yang tidak menggunakan lampu dapat dioperasikan pada siang hari.Pengoperasian penangkapan terdiri dari : Persiapan, penurunan alat (pelingkaran), menaikan jaring dan menaikan ikan ke atas kapal.
1. Persiapan
Perbekalan dan peralatan yang akan digunakan pada saat operasi penangkapan harus dipersiapkan secara matang, sehingga pada saat operasi penangkapan dapat berjalan lancar. Adapun persiapan yang dilaksanakan meliputi : bahan bakar, minyak pelumas, es (bahan pengawet ikan), bahan makanan, air tawar, bahan-nahan rumpon, dan penyusunan alat tangkap ikan.
Persiapan Alat tangkap
Penyusunan alat tangkap harus sudah dipersiapkan sebelum kapal berangkat menuju fishing ground. Penataan jaring di atas dek kapal biasanya antara pelampung badan jaring dan pemberat (termasuk cincin) dipisahkan. Bagian atas jaring yang berpelampung dipersiapan diturunkan paling awal kemudian diikuti dengan badan jaring dan selanjutnya pemberat beserta cincin-cincinnya. Cincin disusun secara berurutan sehingga jaring tidak kusut pada saat diturunkan seperti gambar berikut ini:




Gambar. Penataan jaring lingkar sebelum dioperasikan

Penataan jaring disesuaikan dengan arah putaran baling-baling kapal dan arah pelingkaran jaring. Arah putaran baling-baling kapal kekiri maka penyusunan alat tangkap di bagian lambung kiri kapal, demikian pula jika putaran baling-baling kekanan, maka alat tangkap disusun di lambung kanan. Sedangkan penyusunan jaring diburitan dapat dilakukan pada kapal dengan baling-baling putar kanan maupunkiri.


Gambar. Arah putaran baling-baling kapal


2. Pengoperasian Alat Tangkap Ikan Jaring Lingkar
Penurunan Alat tangkap (Setting)

Operasi penangkapan ikan dengan purse seine dimulai dengan menurunkan alat tangkap. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan setting yaitu : arah angin, arah arus, arah kawanan ikan, arah datangnya sinar matahari.
Kedudukan kawanan ikan dan jaring harus berada di atas angin, sehingga kapal berada di bawah angi. Dengan demikian kapal akan menjauhi jaring. Sedangkan terhadap arah arus sebaliknya, jaring dan kawanan ikan di bawah arus sedangkan kapal berada di bawah arus. Terhadap gerakan kawanan ikan jaring harus menghadang didepannya, sedangkan kapal berada di bawah kawanan ikan.
Operasi penangkapan ikan dengan purse seine pada siang hari harus memperhatikan arah datangnya sinar matahari, yaitu jaring dan kawanan ikan harus diletakan ke arah datangnya sinar matahari.

a b
Gambar a. Kedudukan kapal terhadap angin. b. Kedudukan kapal terhadap arus

a. b.
Gambar a. Kedudukan kapal terhadap kawanan ikan. b. Kedudukan kapal terhadap matahari



Seting diawali dengan menyatukan tali kerut dengan tali ujung sayap dan kemudian diikatkat pada sebatang bambu yang diberi pelampung, pada operasi penangkapan tanpa menggunakan skiff boat pelampung ini dibawa oleh seorang yang berenang mencebur ke laut . Adapun kegiatan setting sebagai berikut :
  • mula-mula rumpon diangkat ke atas kapal, pada saat itu lampu penerangan dimatikan dan digantikan dengan lampu bantu yang diturunkan dengan pelampug disertai dengan rumpon bantu (rumpon yang tidak dijangkarkan ke dasar perairan)
  • rumpon bantu akan hanyut menjauhi kapal, kira-kira 30 m dari kapal, maka kapal mengangkat jangkar dan menjauhi rumpon sejauh lebih kurang 50 m.
  • kapak bergerak dengan kecepatan penuh mengelilingi rumpon dengan jarak 50 m sebanyak 1 sampai dengan 2 kali putaran.
  • setelah sesuai posisi yang tepat, seseorang yang memegang tiang bambu diperintahkan turun ke air.
  • kapal tetap melingkari rumpon tersebut menuju ke orang yang memegang tiang tersebut
    setelah dekat dengan pemegang tiang tersebut kapal berjalan lambat dan mesin stop ketika tiang telah diambil ke atas kapal.
Pengangkatan Alat tangkap (Hauling)
Pengangakat jaring dimula setelah ujung jaring yang diberi tiang dinaikan ke atas kapal. Adapun kegiatan hauling sebagai berikut :
  • tali kerut dan tali ujung sayap dipisahkan
  • tali kerut ditarik dengan gardan sampai dengan jaring lingkar mengkerut (seluruh cincin naik ke atas dek)
  • badan jaring ditarik dari kedua ujungnya hingga tinggal bagian kantongnya saja
    ikan yang berada dikantong dinaikan keatas kapal
  • setelah ikan naik semua maka jaring disusun kembali dan siap dioperasikan kembali.

    Gambar. Oerasi penangkapan ikan dengan jaring lingkar

Baca Selengkapnya ya...


gif maker
Ingin tukar link banner diatas silahkan copy code berikut ini :



Jika Anda ingin berdonasi silahkan klik dibawah ini :

100 Blog Indonesia Terbaik
Galuh Technologies Web Hosting - Registrasi Domain - Web Desain

Followers

Ikutlah bergabung disini :
Increase your PageRank

Top 10 Award

Program Affiliate



Masukkan Code ini K1-BC97EB-5
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com


Produk SMART Telecom

Blog Archive

Recent post

 

Copyright © 2009 by Laut biruku